Memilih masjid

Sholat berjamaah di masjid bagi para ikhwan sangatlah dianjurkan,ada sebagian ulama yang mewajibkan,dan sebagian lagi pun mengatakan sbg sunnah muakkad,yaitu sebuah sunnah yang sangat ditekankan,jadi bukan sekedar sunnah biasa.

Pada dasarnya memilih masjid (tempat sujud) atau mushola (tempat sholat) manapun sama,selama mudah melaksanakannya,meski ada anjuran berikut :

“Hendaknya seseorang shalat di masjid yg dekat dengannya, dan jangan mencari-cari masjid lain” (HR. Ibnu Hibban)

hanya saja perlu diingat bahwa semakin jauh masjidnya maka akan semakin besar pula pahalanya,sesuai hadits dari Abu Huroiroh berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no. 1553)

Dari hadits diatas maka jika masjid/mushola tsb ada adzan sudah selayaknya kita mendatangi panggilan sholat tsb dgn menghadiri sholat berjamaah

Hadits tsb juga memberikan pesan pada kita bahwa bahkan orang buta saja tidak diberi keringanan dari mendatangi panggilan sholat berjamaah,dan hadits ini dpt menjadi dalil bahwa yang menjadi patokan utk mendatangi sholat berjamaah adalah terdengar atau tidaknya suara adzan,bukan dari status tempat tsb sbg masjid atau mushola.

Adapun untuk pemilihan masjid jika kita termasuk beruntung karena banyak masjid yg berada dekat rumah,maka faktor lain yg dapat menjadi pertimbangan adalah :
adakah majelis ilmu yg sering diadakan di masjid tsb? Selain itu bagaimana masjid tsb dalam menjalankan sunnah2?

Masjid yg mempunyai imam tetap yg dipekerjakan juga biasanya lebih baik daripada yg tidak,karena lebih terorganisir tentunya.

Akan tetapi semua kembali ke diri masing2, yg penting prinsipnya adalah memudahkan kita dalam beribadah sesuai kemampuan kita sesuai prinsip ‘yassir wa laa tu’assir’

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s