Bermakna karena dimaknai

Tulisan ini terinpirasi sebuah cerita yang saya baca,tentang seorang anak kecil yang memberi hadiah ulang tahun untuk ayahnya. ketika dibuka ternyata kado itu isinya kosong. ayahnya bertanya mengapa diberikan hadiah kosong,lalu sang anak menjawab bahwa kotak kosong itu di dalamnya berisi ribuan ciuman untuk sang ayah. ayahnya pun terharu mendapat kado yang begitu indah dari anak yg begitu dicintainya itu,dan langsung memeluk sang anak.

demikianlah sebuah kado yg buat orang lain terkesan kosong,bisa bermakna amat istimewa bagi seseorang. semuanya tergantung pemaknaan individu tersebut.

guru spiritual saya pernah secara ekstrim memberikan contoh,kalau seandainya tetangga kita memberikan kita sekotak hadiah berisi kotoran hewan,bagaimana reaksi kita?

kemungkinan kebanyakan orang akan marah karena berpikir itu sebagai penghinaan,tapi bisa jadi maksud dari tetangga itu memberikan pupuk  bagi kebun tetangganya. disinilah kita dituntut berpikir positif selalu terhadap orang lain. salah cara berpikir,salah pula reaksi kita.

bagi seorang suami ,bekerja keluar rumah untuk mencari nafkah,bisa jadi terlihat sebagai ajang untuk unjuk diri,betapa hebatnya dirinya bekerja sebagai mesin pencari uang,bisa jadi disitu timbul ego,sebuah pencarian untuk kebanggaan dan kehebatan diri.

sementara disisi lain bisa jadi bekerja dimaknakan sebagai sebuah ibadah kepada Allah,karena kewajiban mencari nafkah sebagai kepala keluarga. yang demikian ini bisa jadi berbeda karena cara memaknainya berbeda.

sungguhpun pekerjaannya sama,tapi nilainya jauh berbeda. karena yang satu hanya dapat uang tanpa nilai ibadah,sementara yang ibadah justru dapat bonus tambahan pemasukan uang.

cerita lainnya mungkin teman2 pernah mendengarnya,tentang 3 orang tukang batu,ketika ditanya tentang pekerjaannya menjawab hal yang berbeda ;

tukang batu pertama menjawab : saya bekerja sebagai pemecah batu.

tukang batu kedua menjawab : saya bekerja agar keluarga saya bisa makan setiap harinya.

tukang batu ketiga menjawab : saya bekerja untuk membangun rumah sakit untuk orang tidak mampu,supaya masyarakat tidak mampu bisa berobat gratis nantinya.

ketiga tukang batu tersebut sama pekerjaaanya,tapi yang berbeda adalah cara pandang mereka terhadap pekerjaanya masing2. tukang batu nomer dua masih lebih baik dari yg pertama,karena dia bekerja untuk keluarga,namun tukang batu ketiga memahami lebih jauh konteks perjuangan dan pekerjaannya,sehingga dia pasti bekerja sepenuh hatinya,lantaran dia juga rakyat miskin yg mungkin juga suatu hari berobat di rumah sakit yg sedang dibangunnya ini.

bagaimana dengan hidup kita? apakah sudah kita maknai dengan benar?

10 Komentar

  1. Hidup ini makin bermakna bila berguna bagi orang lain dan sekitarnya.

    betul banget mas,sebaik2 manusia yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya,demikian pesan rasul😛

  2. aku belum dapet kado dari Didot! Huh!:mrgreen:

    hooo gitu ya chi?😛

  3. Hmm… aku mesti introspeksi diri lagi nih… Apa sebenarnya yang kukerjakan selama ini…

  4. Dalam bidang pekerjaan, justru kita (pimpinan) harus bisa melihat perbedaan cara pandang ini, untuk bisa menilai kedalaman kompetensi pekerja tersebut. Sama pekerjaannya, dengan niat dan tujuan berbeda, menghasilkan hasil yang berbeda…disitulah perlunya pemahaman soft skill (dalam ilmu manajemen, ada soft dan hard competency).

    Hard skill akan lebih berhasil untuk mencapai tujuan apabila soft skill nya mendukung.
    Pemahaman ini membuat perusahaan meningkatkan pendidikan dibidang soft skill, memberikan motivasi, melakukan outbound bersama karyawan dan Pimpinan, dll.

  5. subhanallah, terharu banget baca jawaban tukang batu nomer 3 :’ )

    introspeksi lagiiii….. makasih ya Dot. Memang sering kali kita hanya melihat di permukaan, bukan menyelam ke dasar. Ouh, smga gue bisa menjadi seperti si tukang batu #3 dalam memaknai semua hal.

  6. wah mkasih banget nih dapat pencerahan dari sini
    salam kenal n selamat tahun baru hijriah 1432 semoga menjadi awal yang baik

  7. Subhanallah…mdh2an saya bisa mencontoh seperti tukang batu ketiga…ammiiin
    salam kenal

  8. pembelajaran dr tukang batu…….😀

  9. hmm..alangkah bermakna hidup kita jika bisa berpikir untuk menjadi bermakna bagi orang lain..makasih ya sudah mengingatkan saya tujuan hidup yang sebenarnya..

  10. hidup kita akan lebih bermakana, ketika kita bisalebih bermanfaat bagi orang lain ya Mas Didot🙂
    salam

    setuju banget bunda ly,tulisan bunda ly juga banyak manfaatnya tuh buat orang2😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s