Pendapat yang lebih benar

Suatu ketika saat Ridho sedang berbincang dengan Gurunya, datang 2 orang murid yang bertanya kepada sang guru.

murid pertama berkata ” maaf guru,saya mau bertanya,tadi saya baru saja mengambil wudhu,tapi tidak sengaja bersentuhan dengan lawan jenis saya saat berpapasan menuju tempat sholat,apakah wudhu saya batal?”

sang guru balik bertanya ” bagaimana menurut keyakinanmu,bersentuhan dengan lawan jenis itu wudhunya batal atau tidak?”

murid pertama bertanya lagi ” justru itu guru,saya bertanya karena saya ragu”

sang guru menjawab ” kamu lebih yakin ke yang mana? bukankah saya pernah mengajari kamu?”

murid pertama menjawab ” kayaknya sih batal kalau menurut saya”

sang guru meneruskan lagi ” kalau begitu batallah wudhu kamu,ulangilah wudhumu itu”

kemudian murid pertama itu pun berlalu dan mengulangi wudhunya.

tidak lama berselang datanglah murid kedua.

murid kedua kebetulan juga bertanya hal yang sama ” Guru,tadi saat dalam perjalanan menuju masjid,tanpa sengaja seorang wanita menyentuh saya,apakah wudhu saya jadi batal?”

sang guru kemudian balik bertanya “bagaimana menurut keyakinanmu? batal atau tidak?”

murid kedua menjawab “kalau saya yakinnya sih tidak,kan dia yang menyentuh saya”

sang guru menjawab ” kalau begitu kamu masih berwudhu,teruskanlah untuk sholat wudhumu itu”

murid kedua kemudian pergi untuk sholat.

Ridho yang dari tadi memperhatikan tiba2 mengajukan pertanyaan ” lho guru,kok guru plin plan gitu sih? tadi guru bilang pada murid pertama menyentuh wanita itu batal,tapi pada murid kedua kok tidak batal? sebenarnya dalam fikih yang benar gimana sih guru? kok saya malah jadi bingung dengan jawaban guru,apakah kalau orang lain yang menyentuh kita , terus wudhu kita jadi gak batal? ”

sang guru menjawab ” Begini lho nak, persoalan wudhu ini sebenarnya mudah,kita tinggal menjalani apa yg kita yakini benar. karena setiap dari kita bisa benar,tanpa perlu menyalahkan orang lain. bagi yang merasa telah batal,karena keyakinannya itu dia menjadi batal,dan bagi yg merasa tidak ,maka dia lebih dekat kepada apa yg diyakininya itu. setiap orang punya kebenaran untuk dirinya masing2 , jadi kita tidak berhak menghakimi pendapat orang lain

kemudian guru melanjutkan ” saya tidak pernah memaksa orang lain untuk meyakini apa yang saya yakini,karena saya bukanlah kebenaran,saya hanyalah seorang penyampai kebenaran yang juga bisa salah dalam menyampaikan. sayapun hanya bisa mendekati kebenaran tanpa pernah akan menjadi kebenaran itu sendiri. sekalipun memakai dalil yang sama,tapi yang  membuat berbeda adalah penafsiran dari manusianya tersebut

lalu ridho pun bertanya lagi ” nah kalau guru sendiri pribadi memegang pendapat mana? batal atau tidak? bilamana bersentuhan dengan lawan jenis? ”

sang guru menjawab ” bagi saya pribadi ,tidak batal wudhu saya jika bersentuhan dengan lawan jenis,karena bersentuhan dengan lawan jenis tidak ada dalil yg menyebutkannya sebagai hal yg membatalkan”

“kalau begitu saya juga mau ikut pendapat guru ” jelas ridho

“silahkan saja,kamu berhak mengikuti saya jika memang kamu mau demikian “ujar sang guru sambil tersenyum🙂

9 Komentar

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ust Didot -semoga dalam kondisi baik-

    Menyentuh wanita -baik yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, hanya saja ini bukan berarti boleh menyentuh wanita yang bukan mahram. Karena telah shahih dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda, “Seseorang di antara kalian betul-betul ditusukkan jarum besi dari atas kepalanya -dalam sebagian riwayat: Sampai tembus ke tulangnya-, maka itu lebih baik bagi dirinya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dari Ma’qil bin Yasar)

    sebaiknya memang kita menghindari yang ragu-ragu. berijtihadlah dalam hal ini, dengan mengharap taufiq serta inayah dari Allah, bukan karena ingin cari untuk memegang atau dipegah wanita, hehehhe:mrgreen:

  2. Saya juga ikut ragu ni Buguruuu????

  3. hmm

  4. Oke,Pak guru…saya mengerti (*sambil mengangguk-anguk)….Dot, kok ada yg beda ya di postingan ‘Peraturan Blog’? Lg sebel dgn siapa?

  5. penjelasan ini udah gamblaaaaang… banget. Semoga bisa dimengerti siapapun🙂

    sekali lagi, Allah memang nggak hendak menyulitkan hambaNya

  6. Kalau saya memilih untuk tidak bersentuhan sama sekali dengan lawan jenis ketika berwudhu. Ini demi meyekinkan diri saya agar tidak selalu merasa was2.

  7. Hal ini kemungkinan sering terjadi jika sholat diadakan di aula kantor di lantai atas, da untuk mencapai kesana mesti melalui lift. Dan saat istirahat Jumat (lebih lama dibanding hari biasa bagi yang tak punya kewajiban sholat), lift akan penuh dengan orang yang mau sholat maupun yang mau makan siang di luar kantor…..jadi ada risiko bersentuhan dengan orang lain setelah wudhu.

  8. Meskipun kbenaran itu mutlak, tapi Allah tak pernah memaksakan kebenaran itu kan mas.

  9. karena yang paling benar adalah Allah swt.
    salam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s