merubah kebiasaan buruk orang lain tanpa kekerasan

Dulu saya pernah dipercaya untuk memegang perusahaan kelas menengah,saya mempunyai beberapa bawahan kala itu,yang selevel dengan jabatan supervisor. salah satunya adalah tangan kanan saya,yaitu orang kepercayaan saya ,yang saya anggap paling pintar dan bisa mewakilkan saya ,kalau saya sedang tidak ada.

hanya sayangnya dia punya satu kekurangan yg cukup mengganggu ,yaitu sering terlambat.

Dulupun saya juga suka terlambat,memajukan jam di kamar dan di handphone saya sebanyak 15 menit. namun setelah saya ikut sebuah training,saya belajar tentang menghargai waktu dan komitmen,sehingga saya tidak mau lagi memajukan jam saya meski sedikit. lebih baik kita yang menunggu daripada membuat orang lain menunggu kita. ini juga alasannya saya sering bawa buku buat baca2 kalau sambil  menunggu😉

ketika di kantor seluruh karyawan saya ajak dialog untuk berkomitmen bersama , ternyata mereka sepakat untuk hadir jam 8 pagi. setelah komitmen  bersama tersebut,sehari2nya jam 7 saya sudah duduk manis,sambil memesan sarapan dan buka2 email menunggu waktu bekerja.  kebetulan kalau  setiap senin ,kita ada rapat di lapangan untuk membaca doa,  bersama2 dengan seluruh karyawan secara bergantian,satu persatu memimpin doa untuk belajar kepemimpinan. kalau hari2 biasa (selain senin) cukup dengan bagiannya masing2 saja,tidak kumpul semua.

Nah tangan kanan saya ini,karena biasanya juga suka telat ,maka kalau rapat hari senin sering telat juga.  Kita juga perlu kebijaksanaan dalam melihat telatnya seseorang, kalau  seandainya dalam sebulan dia telat hanya satu dua kali  saja,mungkin itu masih wajar,tapi kalau dia  hanya sekali dua kali saja datang tepat waktunya, bisa jadi itu masalah besar,karena itu masalah karakter.

Diawal2 kebijakan baru tersebut,saya sempat mengamati ,bahwa kalau hari senin memang banyak yg suka telat. Setelah saya teliti alasan2 mereka yang pada telat,ternyata sebagian besar karena mereka berangkat kerjanya, jamnya sama dengan mereka berangkat bekerja di hari2 lainnya.

Perlu diketahui bahwa di Jakarta (dan tentu kota2 besar lainnya sama saja) hari senin semua orang berlomba2 berangkat lebih pagi,jadi gak bisa kalau anda berangkat dengan waktu seperti hari2 biasa. minimal anda perlu berangkat  setengah jam lebih awal pada hari senin.

Sebagai contoh saya pribadi berangkat kerja biasanya jam 6.30,tapi kalau senin jam 6 pagi saya sudah jalan. hal ini (hari senin harus berangkat lebih pagi setengah jam daripada hari2 biasa lainnya)  setelah saya sosialisasikan di kantor cukup mengurangi keterlambatan di hari senin. tidak ada alasan untuk terlambat,apalagi alasan klasik yaitu macet,itu sudah biasa.

Kita hidup di kota besar seperti jakarta dimana macet udah jadi bagian dari kehidupan kita,jadi macet udah pasti,kitalah yang harus mengantisipasi,kecuali terjadi hal2 yg sifatnya khusus atau insidentil,misalnya ada terjadi demonstransi , ban kempes , kecelakaan,ataupun sakit dan hal2 lainnya yg bersifat urgen atau kondisional,namun alasan2 ini kan cuma  sesekali saja alias insidental,bukan setiap hari dong terjadinya??

Kembali ke si tukang telat yg kebetulan juga orang kepercayaan saya ini, karena dia terlambat di hari senin,maka hukumannya dimulai dari yang ringan2,yaitu disuruh menyanyi lagu anak2 dengan memakai gaya di depan seluruh karyawan yg ada. ternyata hukuman ini masih belum cukup efektif untuk merubah perilakunya,karena minggu depannya dia masih telat lagi (sehari2 juga suka telat,makanya dia ini udah sering disuruh nyanyi ,jadi mungkin udah biasa kalau hukumannya itu2 juga ya🙄 ).

karena dia tidak mau juga berubah2 dan hal ini dapat mempertanyakan wibawa saya sebagai pemimpin,maka saya suruh dia push up sebanyak 10 kali di depan seluruh karyawan yang ada,dan saya katakan minggu depan akan saya tambah lagi push upnya jika dia masih telat juga.

ternyata minggu depan pun dia masih telat juga. saya sudah kehabisan ide bagaimana mengubah dia. di satu sisi saya juga bukan orang kejam yang ingin menghukum orang seenaknya saja,meski saya boleh melakukannya. tapi tujuan saya menghukum adalah berubah,kalau cuma menyakiti hatinya ataupun tidak merubahnya,apa gunanya hukuman tersebut?

Untungnya saya sempat ingat sebuah bacaan tentang cerita arun gandhi  (cucunya mahatma gandhi) yg berubah karena suatu peristiwa dalam hidupnya sewaktu beliau masih muda,dan itu semua terjadi  tanpa kekerasan sama sekali.

berikut ceritanya ,silahkan dibaca dulu ya,sebelum saya bercerita kembali tentang apa yg saya lakukan kepada tangan kanan saya di kantor itu dulu :

Kisah Arun Gandhi

Dr. Arun Gandhi cucu dari mendiang Mahatma Gandhi pernah menceritakan satu kisah dalam hidupnya yang sungguh mengesankan.

Kala itu usia saya kira-kira masih 16 tahun dan saya tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya Mahatma Gandhi, Kami tinggal disebuah perkebunan tebu kira-kira 18 mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh di pelosok desa terpencil sehingga hampir tidak memiliki tetangga. Oleh karena itu saya dan kedua saudara perempuan saya sangat senang sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi ke pusat kota, untuk sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film dibioskop.

Pada suatu hari kebetulan ayah meminta saya menemani beliau ke kota untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Bukan main girangnya saya saat itu. Karena ibu tahu kami hendak ke kota maka ibu menitipkan daftar panjang belajaan yang ia butuhkan, disamping itu ayah juga memberikan beberapa tugas kepada saya, termasuk salah satunya adalah memperbaiki mobil dibengkel.

Pagi itu setelah kami tiba ditempat konferensi; ayah berkata kepada saya; ” Arun; jemput ayah disini ya, nanti jam 5 sore….dan kita akan pulang bersama-sama” . Baik ayah, saya akan berada disini tepat jam 5 sore. Jawab saya dengan penuh keyakinan.

Setelah itu saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang dititipkan ayah dan ibu kepada saya satu persatu. Sampai akhirnya hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa yakni menunggu mobil selesai dari bengkel. Sambil menunggu mobil diperbaiki tidak ada salahnya aku pikir untuk mengisi waktu senggangku dengan pergi ke bioskop menonton sebuah film. Saking asyiknya nonton ternyata saat saya melihat jam; waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sementara saya janji menjemput ayah pukul 17.00. Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hampir satu jam menunggu. Saat saya tiba sudah hampir pukul 18.00 sore.

Dengan gelisah ayah bertanya pada saya; Arun! kenapa kamu terlambat menjemput ayah..? Saat itu saya merasa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa saya tadi keasyikan nonton film, sehingga saya terpaksa berbohong dengan mengatakan; ” Maaf Ayah” ”Tadi mobilnya belum selesai di perbaiki sehingga Arun harus menunggu.”

Ternyata tanpa sepengetahuan saya , ayah sudah terlebih dahulu menelpon bengkel mobil tersebut, sehingga ayah tahu jika saya berbohong; Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap saya ayah berkata; ”Arun sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu”; ”sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah”. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan dimana letak kesalahannya.

Lalu dengan tetap masih berpakaian lengkap ayah mulai berjalan kaki menuju jalan pulang kerumah. Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin tidak rata. Saya tidak sampai hati meninggalkan ayah sendirian seperti itu; meskipun ayah telah ditawari naik, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan kaki, akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, dan tak terasa air mata saya menitik melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan. Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut

Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun. Sering sekali saya mengenang kejadian itu dan merasa begitu terkesan; seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagai mana pada umumnya orang tua menghukum anaknya yang berbuat salah; kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu; dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah; meskipun tanpa kekerasan justru telah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bisa mengubah diri saya sepenuhnya. Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.

Nah dari cerita inilah saya terinpirasi menghukum diri saya sendiri. Seorang pemimpin yg bijak akan sadar bahwa jika terjadi kesalahan dalam organisasi yg dipimpinnya ataupun keluarganya itu juga terjadi karena kesalahan dirinya. jadi ketika minggu depan dia terlambat lagi seperti yg sudah saya prediksi,maka saya menghukum diri saya push up sebanyak 20 kali di depan seluruh karyawan. dan alhamdulillah ,minggu depannya dia sudah tidak terlambat lagi. saya gak tau lagi gimana ceritanya dia sekarang,apakah tetap masih suka telat atau tidak,tapi mudah2an pelajaran saat itu dapat diambil hikmahnya untuk berubah menuju kebaikan,dan semoga kisah2 ini dapat anda jadikan pelajaran untuk kehidupan anda dan keluarga ,bahwa terkadang justru kitalah yg paling salah dalam suatu perkara. Menyalahkan orang lain adalah hal paling mudah tatkala terjadi suatu kesalahan,dan itu adalah tanda ketidakdewasaan seseorang.

semoga berguna

23 Komentar

  1. Amankan pertama….

    haha,padahal si pertama gak berbahaya tapi perlu diamankan juga ya??:mrgreen:

  2. Masuk kedua..

    yang penting masuk jangan bolos2 ya😉

  3. Ketiga baru komentar:
    hat trick mas😛
    Kekerasan dilawan lemah lembut hasilnya makyus ternyata. Walau ,mungkin orang mengira kita kalah, tapi kalah untuk menang. Inspiratif.
    Sukses didot.
    semoga berguna ceritanya😉

  4. Didot, paling baik saat menjadi atasan adalah menerapkan suatu kebijakan yang disepakati bersama, sehingga tak ada satupun yang akan melanggarnya. Dan ditentukan sanksinya, misalnya terlambat lebih dari satu jam akan dipotong gajinya sekian (ini diterapkan di kantorku…dan efektif). Kemudian atasan memberi contoh, datang paling pagi dan pulang paling sore…jadi hal biasa saat saya melihat atasanku datang lebih pagi…tapi ada juga yang komentar..”Lha kan dia enak punya mobil?”

    Tahukah Didot, orang yang suka komentar dan protes, akhirnya tak menjadi apa-apa..justru orang yang kerja keras dan tak pernah mengeluh yang akan berakhir sukses dalam karirnya, karena dalam pekerjaan yang menilai kita banyak, dan tak satupun yang dapat disembunyikan. Kebetulan anak buah Didot belum punya pesaing..jika ada orang lain yang kelasnya sama dan lebih rajin, maka diapun akan ditinggalkan oleh atasan.

    makasih bu enny atas masukannya,insya Allah saya bisa jadi teladan yg baik,buat siapapun,terutama nanti anak2 saya ya bu😉
    sebaik2 nasehat adalah dengan contoh tentunya,betul kan bu enny🙂

  5. Huaaa..nin nangis baca kisah arun.
    Nangis tambah kenceng lagi soalnya saia teladan juga..huaaa

    Selalu nemu nice post kalo ngintip kesini..;-)

    Danke bang didot ^_

    *ngasihin tisu buat nin
    makasih kembali😉

  6. Pagi Didot..!

    terharu bundo dengan caramu itu, memberitahu dengan hikmah.. dengan kasih sayang. Powernya, luar biasa.

    Subhanallah..

    ya bundo,dia sampai malu sendiri,karena saya yg harus menanggung kesalahannya. tapi lumayan pegel lho bundo push up 20 kali🙄

  7. Kalo dalam sudut pandang islam, sebenarnya pelajaran disiplin sudah diterapkan Allah dengan deadline shalat subuh yang wajib dan harus tepat waktu, selain untuk menghilangkan kemalasan, juga melatih mental manusia yang bisa mensyukuri waktu, walaupun itu satu menit atau satu detik..kalo pengalaman di kantor saya mas, para karyawan yang sering telat, diberi jatah lembur full time kalo hari minggu, dan libur mereka dipindah hari senin…..selain untuk menghindari alasan yang dibuat2, hal ini bisa mengefektifkan kebiasan karyawan untuk tetap “semangat kerja” meskipun dalam suasana hari libur………meskipun mau ada weekend hari besar atau libur panjang, semangat mereka nggak loyo

    wah kantor kamu unik banget,baru denger saya ada yg kayak begitu😉

  8. saya sendiri merasa tak enak hati jika sesekali terlambat, sebisa mungkin saya datang lebih awal, dan ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil segala sesuatunya saya lebih baik yang menunggu dari pada yang ditunggu

    setuju pak,saya juga berprinsip sama,kalau terlambat saya wajib telepon biar orang gak menunggu tanpa kepastian🙂

  9. Saya paling marah klo ketemu tukang telat. Driver telat datang, langsung saya tinggal. Biar dia tahu kesalahannya dimana. Saya sendiri selalu jadi yang duluan datang hahaa… duh males sih memang, coba bayangkan masa waktu mo wisuda, jam 6 kurang saya sudah di tempat, dan….. belum ada satupun mahasiswa bo’. Hahahaa.a… manteppp!

    wah mbak zee mah galak hehehehe,aku takut kalau janjian ma mbak zee telat hihihi😛

    tapi semuanya kan dilakukan ada maksudnya ya mbak? biar belajar dari kesalahan kan?

    saya pernah juga kepagian,belum ada yg datang,yah kita manfaatkan buat baca buku sama buka internet aja akhirnya (sambil nyarap nasi uduk tentunya😀 )

  10. wah, memang paling gak enak kalau terlambat gitu ya Mas.
    dah nyusahin banyak orang, kesannya jg kita kurang tanggung jawab.
    terimakasih Mas Didot telah menghimbau dgn lembut dan cara yg tdk menggurui.
    salam

    iya bunda,kalau mau orang lain berubah kita harus bertanggung jawab memberi contoh🙂

  11. Mantap pak didot, tulisannya menginspirasi saya… Subhanallah. Terimakasih, karena selama ini saya mempunyai kesulitan yang sama terhadap anak-anak dan binaan. terima kasih. Wassalam

    alhamdulillah kalau berguna,terimakasih kembali😉

  12. merubah kebiasaan buruk orang tanpa kekerasan pasti bs,asalkan ada kemauan dan niat.tentunya kalo kita mau merubah org kita tunjukin dulu ke dia bagaimana caranya bersikap, jd intinya kita dulu yg jd teladan..

    setuju mas jul🙂

  13. kisah dari Arun Gandhi-nya menarik sekali….

    iya, banyak teman saya juga yang masih malah memelihara kebiasaan terlambat mereka. (doh)

    saya pernah nyoba mau telat, eh, tetap saja jadi yang duluan mulu. hahahha…..

    wah berarti yg lain pada telatnya keterlaluan dong ya mas usup??😛

  14. Salut mas dengan pengalaman push up nya🙂 moga karyawan itu tidak terlambat lagi… begitu juga cerita arun Gandhinya…

    Kalo lia selalu yakin kalo kita berbuat betul karyawan juga akan berbuat hal yang sama… klo dikantor lia gak ada istilah terlambat … CEOnya aja gk pernah telat…
    jadi ketika lingkungan kerja baik… kalo ada yg lain pasti akan langsung terasa .. dan yg bersangkutan akan malu sendiri…😀

    betul banget tuh,yg paling atas harus ngasih contoh biar yg lain pada malu😉

  15. Rasanya tadi sudah ngasih komen deh, Dot. Apa ada sabotase terhadap komen Mbak ya sangkin bagusnya tuh komen:mrgreen:🙄😯

    masa sih mbak?? kok belum ada? di aki juga gak ada??😯

    lupa kali mbak? maklum mbak mel kan udah rada berumur:mrgreen:

    atau kebanyakan ngurus adik2 yg lucu2 itu ya jadi lupa😛

    • Iya, fajar tadi klo ga salah….Apa Mbak benar2 udah pikun ya, tapi kan Mbak setua Didot hehehe
      Nah, itu dia….iya, sibuk ngurus adik2 di blog, jadi kelupaan dah komen atau belom🙂

      jiah ,mbak mel kan lebih tua deh kayaknya hihihi😛

  16. weww…thanks bgt gan.. baru pertama kali dengar kisah arun gandhi dan bacannya disini..
    ijin copy dan disimpan dilaptop saya.. saya suka koleksi data2 seperti ini..data ini menambah koleksi ilmu yg nanti akan bermanfaat jika dibaca kembali..
    thanks..😀

    monggo disimpen ta,semoga banyak manfaatnya juga buat yg lain,silahkan disebarluaskan😉

  17. kalo ngelawannya dengan kekerasan hasil yang didapat ga bakal bagus mas.

    makasi sharenya, dapet ilmu neh..

    betul fit,kalau keras biasanya ditolak duluan🙂

  18. Ini salah satu artikel menarik yang pernah saya baca di blog ini. Bisa dijadikan pembelajaran bagi kita semua. Dan kalau saya pribadi, Insya Allah, termasuk tipe yang lebih baik menunggu daripada ditunggu dan lebih baik datang beberapa menit sebelumnya daripada terlambat

    bagus,memang lebih baik menunggu daripada ditunggu🙂

  19. waaah pengalamnnya menarik banget bang
    emang sih kita itu sering banget nyalahin orang lain

    pdahal diri kita sendiri masi blom sempurna
    heeemmm

    bisa dicontoh ni

    silahkan diambil hikmahnya dan diterapkan untuk masa depanmu🙂

  20. hm…
    di kantor saya juga ada yang sering telat dot. padahal di jogja kan gak ada macet yah. apalagi rumahnya dekat…
    kalau udah karakter dimana aja sama aja na,menyepelekan waktu dan komitmen itu namanya

    agak susah juga tuh untuk membuat dia untuk datang pagi.. mungkin perlu hukuman2 kayak yang kamu sebutin kali yaa,,,

    bisa jadi,sekali dua kali dihukum,lama2 kita yg menanggung hukumannya ,biar dia nyadar kalau gak sadar2🙄

  21. seringnya akan sangat gampang bgt tuk menyorot oraang lain ya Dot… jarang yang mau nunjuk ke diri sendiri

    ah itu memang yg paling sering terjadi,dan itu tanda ketidakdewasaan seseorang😯

  22. oh jadi bosnya yah yang harus push up eh eh eh😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s