Mata sang jendela hati

Dalam era konsumerisme sekarang, saat tetangga atau teman kita membeli sesuatu barang mewah yg baru,maka kita akan tergoda juga untuk memiliki barang baru tersebut.

Kita baru beli mobil BMW terbaru,tetangga beli lagi Mercy terbaru,kita lihat kerenan mobilnya tetangga atau teman kita,terus kita juga jadi kepingin. tetangga kita baru beli HP baru,kita jadi pengen ganti juga. belum lagi kalaupun tetangga gak beli kita lihat barang baru di iklan TV atau billboard jadi penasaran,jadi kepengen juga.

Disinilah peran mata,sebagai jendela hati,dan hati sebagai sebagai pusatnya keinginan, bermain2 untuk mengendalikan perasaan kita. terlalu banyak memandang jadi terlalu banyak menginginkan.

Coba bayangkan hidup di desa,dimana rata2 milik orang lain itu gak terlalu beda jauh. paling orang semua punya TV sama sepeda atau motor,jadi tidak ada keinginan untuk memiliki lebih,karena semua sama.

Itulah dasar paham komunisme, dimana semuanya dibuat hampir sama kondisi dan keadaannya,agar tidak terjadi keinginan2 bagi anggota masyarakat lainnya. berbeda jauh dengan paham kapitalisme,dimana berasaskan kepada ,siapa yg mampu silahkan saja untuk memilikinya,sehingga orang berlomba2 untuk menghalalkan segala cara demi gaya hidup mewah yg dilihatnya. disinilah biasanya terjadi tindak korupsi,karena terlanjur suka dengan gaya hidup mewah dan konsumerisme. hal ini termasuk juga gaya hidup banyak dari para pejabat tinggi negara kita.

karena itu anda yg sering ‘cuci mata’ ke mall ,hati2 ya,karena bila gak dijaga ,hati anda akan banyak menginginkan,nanti kalau sudah terlalu banyak keinginan akhirnya jadi sulit bahagia,karena banyak dari keinginannya itu yg tidak tercapai,lalu kemudian bisa terjebak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya itu.

gimana mau bahagia,kalau selalu menginginkan sesuatu yg belum kita miliki? kebahagiaan adalah suatu rasa cukup atas apa yg ada,rasa syukur atas apa yg kita miliki saat ini. bahagia dan syukur tidak terpisahkan,jadi mulailah bersyukur pada keadaan anda sekarang dengan berbagi kepada mereka yg lebih memerlukan. inilah sesungguhnya hikmah dibalik mengapa rasul menyuruh kita menyantuni anak yatim,dan dekat dengan anak2 yatim.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan, “Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni anak yatim, di Surga akan seperti ini (Rasulullah  menunjukkan dua jari, jari telunjuk dan tengah saling menempel)”.

Dengan bergaul bersama anak yatim ,kita jadi merasakan bahwa sesungguhnya Allah telah memberi banyak kelebihan pada kita,mulai dari orangtua ,materi ,dan kasih sayang.

Demikianlah maka bergaul perlu dipilih2 ,apakah pergaulan kita itu jenis yg bermewah2an dan hanya jenis konsumerisme atau tipe egaliter yg peduli dengan sesama. semua hal ini akan mempengaruhi kebersihan hati dan jiwa kita,sehingga kita jadi sulit menata hati,mengendalikan diri kita sendiri pada akhirnya. hati-hati ,nanti kita jadi sibuk terjebak pada berbangga2 dan bermegah2an dengan milik kita,segala upaya jadi kita lakukan untuk kebesaran diri,disinilah sebenarnya jeratan neraka dan setan di dunia.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu , sampai kamu masuk ke dalam kubur.Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS 102 : 1-8)

15 Komentar

  1. pertamaxxx

    hihihi,tumben ya lia paling pagi🙂

    • Kalo lihat tetangga gak akan habis habis mas… dan kalo orientasinya untuk bermegah2 ehmmmm tau sendirilah azab apa yg akan kita terima…

      kalo lia suka borong2 sale karena murah mas… wekekekek

      hahaha,hati2 jangan sampai kebablasan aja ,sale juga gak harus dibeli semua kan ya?? belilah sesuai kebutuhanmu bukan keinginanmu🙂

  2. betul mas, Mata Jendela hati…sulit menjaga Sikap Konsumerisme jika kita tidak bersikap Qona’ah…Konsumerisme juga mendorong kita berperilaku Hedonis…kalau ada rejeki lebih…lebih baik diAmalkan Dijalan Allah…
    BTW, DI kampung2 juga sekarang sudah agak sedikit bergeser budayanya…mungkin karena Pengaruh Media juga kali yah…atau Org Kota yang semakin mempet Ke Kampung2 trus membawa serta Sifat Konsumerisme…🙂

    setuju sama mas atma,saya kan belajar dari kamu mas hehehe😛

    iya di kampung juga karena pengaruh TV tentunya,budaya kota besar jadi terbawa ke pelosok desa😦

  3. keinginan saya yang belum tercapai adalah punya rumah sendiri agar tak jadi kontraktor sejati

    hahaha,iya pak narno ,saya doakan,saya juga begitu pak🙂

  4. Apa yang ada di alqur’an memang selalu terbukti kan mas, ternyata meteri adalah akar dari segala kemunafikan jika kita menggunakannya tanpa rambu2nya Allah, dari materi muncul yang namanya hedonisme, konsumerisme, meterialisme, kapitalisme, keserahkahan manusia,….ah…ternyata semakain lama, kehidupan dunia semakin kuat pengaruh terhadap masyarakat yang mengagung2kan materi sebagai penghambaan, selain Allah

    iya dik,seperti di perang Uhud,barisan muslim kalah karena tergoda oleh harta rampasan perang yg banyak. memang cobaan umat ini yg paling berat adalah harta barangkali ya??😐

  5. Salam Takzim
    Selamat siang, izin menawarkan cerbung datang ya
    Salam Takzim Batavusqu

    siap kang isro,mohon maaf lagi belum sempet BW,nanti insya Allah disempatkan mampir🙂

  6. saya sendiri ngerasain, tapi Alhamdulillah mampu menanggulangi penyakit hati ini ….

    moga aja kita bsia termasuk generasi Muslilm yang mampu melawan kondisi konsumtif yang lagi melanda saudara kita

    ya,mudah2an kita mampu juga mengajak saudara2 kita untuk menahan diri dan menjaga hati🙂

  7. segala sesuatu yang berlebihan gak baik ya dot. Seperlunya sesuai kebutuhan. Makan seperlunya utk menyangga tubuh. Pakaian seperlunya untuk menutupi Aurat, Rumah seperlunya untuk berteduh..

    Bundo juga masih numpang di rumah mama..!😀

    pastinya bundo,gapapa kok numpang dirumah orangtua,yg penting berusaha aja,masalah hasil sih serahkan ke Allah. siapa yg gak mau punya rumah sendiri kan bundo?? semua orang juga kepengen pastinya😉

  8. benar sekali tu mas…
    sifat konsumtif terkadang menyiksa diri.
    setiap lihat benda baru dan bagus, begitu bernafsu untuk membeli. ketika sudah sampai rumah, tidak begitu berguna,,,,

    bedakanlah antara keinginan dan kebutuhan,itu aja kuncinya🙂

  9. mari kita konsumer dlm beribadah saja
    bukn begitu pak ustadz???😀

    istilah baru lagi nih kayaknya??😛

  10. itulah hikmahnya menundukkan padangan dan perasaan… mata bak jendela hati yang seringnya tak bisa kita mengelak tuk berbohong jika mlihatnya…

    dari mata turun ke hati katanya nouf:mrgreen:

  11. Konsumerisme memang telah menggeser pola hidup sebagian manusia di perkotaan lebih berorientasi pada untung dan rugi yang terlalu berlebihan. Akibatnya yang ada hanyalah persaingan untuk sebuah gengsi

    bagi yg sibuk mengejar gengsi akan terus terjebak,karena diatas langit masih ada langit. seluruh daya dan upaya terus dilakukan demi mengejar kejayaan diri pribadi

  12. Pagi ini saya belajar satu hal “belajar menghilangkan ambisi dunia” dan rasanya lega deh … mas Didot mau Ade ajarin melepas genggaman dunia *dibekep, sok tahu*

    saya masih punya ambisi di dunia ini de,yaitu mengingatkan saudara2 kita yg masih terlalu ambisius mengejar dunia ini,biar ingat kehidupan yg sebenarnya ,yaitu kehidupan abadi kelak🙂

  13. tiap kali membaca surah al-takasyur ini, bunda selalu takut ,Mas.
    jangan2 termasuk orang2 yg bermegah2an😦
    dan, selalu mohon perlindungan Allah swt agar mampu menjadi manusia yg bersyukur setiap desah nafas ini, sampai ajal menjemput.
    Terimakasih sudah mengingatkan melalui ayat2NYA,Mas.
    salam

    semoga kita selalu hidup sederhana dan secukupnya agar tidak terjebak kedalam gelombang materialisme saat ini ya bunda🙂

  14. Kalo gak salah istilahnya “hedonisme” ya, yang artinya menganggap kenikmatan dan kesenangan materi adalah tujuan hidup (dari wiki).

    betul,kurang lebih bagi yg terlalu mengejar duniawi orang2 bilangnya kaum hedonis🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s