Di sebuah tempat
Pembeli : pak,nasi bogananya 15 bungkus.
Penjual : siap bos.
Pembeli : diskon dong pak,beli banyak nih,biasa kan cuma satu – dua bungkus aja belinya.
(jawaban 1)
Penjual : wah, mau beli 100 bungkus juga tetep gak ada diskon bos,apalagi cuma beli segitu aja.
(jawaban 2)
Penjual : waduh ,maaf bos,kemaren ada yang beli lebih banyak juga gak ada yg di diskon,soalnya kami ngitung lebihnya sudah dihitung per porsiĀ ,lagian kami ngambil untungnya juga gak banyak kok bos.
nah ,apa yang membedakan antara jawaban pertama dan kedua?
Jawaban pertama mengesankan bahwa si penjual adalah orang yang mengecilkan orang lain ,karenanya dia menjawab seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan dari si pembeli.
Jawaban penjual kedua lebih memikirkan perasaan si pembeli,meskipun sama2 tidak memberikan diskon.
Di sebuah optik
Customer : mas ,bisa servis kacamata?
Penjaga toko : kenapa kacamatanya pak? biar saya lihat dulu
Customer : ini pak putus tali pengikatnya
Penjaga toko : oh gampang itu pak.
Customer : berapa ongkosnya?
Penjaga toko : gratis pak ,lain kali kembali lagi kesini ya pak
Customer : oh pasti itu
Percakapan2 ini terinspirasi dari kejadian nyata, semoga para penjual dapat lebih mempunyai rasa customer oriented/customer service yang baik,minimal dari segi bahasanya.
9 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI





Harus dibaca oleh para penjual nih
Kunjungan pertama nih mas Didot, salam kenal yaa (halah… pdhl udh kopdar hihihi)
betulll
akhirnya maen ke rumah didot
saya sebagai pemegang brand juga sering “menghaluskan” untuk kata2 menolak semacam itu baik untuk customer maupun partner media
karena itu penting untuk performance brand hehe
Semua optik nggak masang tarif untuk pengesetan dan perbaikan.
kunjungan sore…
dalam berjualan ada pepatah menyebutkan ” pembeli adalah raja” atau “tamu adalah raja”
jadi buatlah pembeli tersebut menjadi nyaman dan menjadi pelanggan dan tentunya bersifat profesional demi terwujudnya kesuksesan.
Benar banget. Saya juga paling malas pergi kesuatu toko/warung yang penjualnya tidak memperhatikan perasaan si konsumen. Apalagi kalau kita belinya sedikit lalu diremehkan, rasanya kapok dan tak ada nat lagi utuk beli di toko yg sama
Kunjungan perdana setelah bertemu kopdar kemarin, salam kenal. Maaf ga sempat ngobrol ya disana
apalagi belinya sedikit malah dilayani pada antrian belakang. ngeselin ya…. saya pernah mengalaminya dan itu pada tukang sayur di komplek
ketika kita mengeluarkan ucapan, kita harus menghargai perasaan orang lain. walaupun bermakna sama. tapi berikanlah kata yang terbaik untuk orang yang kita tuju dalam pembicaraan.
itulah sebuah palajaran yang bisa saya petik dari tulisan ini.
wah memang ngaruh koq aspek pelayanan itu kayanya patut ditiru sama para pelaku bisnis ni mas..