Syariat dan hakikat

Selama ini banyak orang memahami hakikat dan syariat sebagai suatu hal yg terpisah

namun sesungguhnya hakikat dan syariat bukanlah  suatu hal yg terpisah,tapi adalah satu kesatuan. di dalam syariat mengandung banyak hikmah hakikat yg perlu dipikirkan agar syariat itu bernyawa dan tidak menjadi sebuah ritual belaka.

maaf bagi anda yg bingung,saya ngomong apa sih kali ini?

teman2 sekalian pernah liat gak ada orang yang ibadah sholat 5 waktunya jalan,sopan dalam tutur kata,namun selalu merasa dirinya lebih baik dengan mengejek dan meremehkan  orang lain yg sholatnya belum 5 waktu? yg akhlaknya tidak nyambung dengan ibadah2 ritualnya itu? ada dengki dari kata2nya,ada hasad atas kesuksesan orang lain,ada sombong dan ujub dari dirinya karena merasa dirinya lebih baik dari yg lain,ataupun orang yg udah sholat 5 waktu ,tapi masih aja maksiat terus  alias STMJ  (Sholat Terus Maksiat Jalan).

mengapa bisa demikian? kenapa orang bisa sholat 5 waktu tapi masih bisa korupsi dan berzinah misalnya? itu karena sholat hanya dipahami sebagai suatu syariat dan tidak melihat kepada makna dan hakikatnya. sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,berarti kalau sholat kita benar kita akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar ,kira2 begitu deh ;)

semua ini bisa terjadi karena pada dasarnya sebuah syariat jadi kosong karena tidak ada hakikat,dan hakikat tanpa syariat jadi tidak punya makna karena tidak ada amal atas pemahamannya itu.  bahasa mudahnya : sebuah tindakan tanpa makna jadi kosong dan sebuah pemahaman tanpa tindakan jadi tidak punya arti karena tidak ada perbuatan apapun untuk mewujudkannya.

sama seperti sebuah iman tanpa perbuatan,maka boleh jadi orang yg melihatnya akan mengatakan dia tidak beriman,sebab kita hidup di dunia itu butuh tata cara dan perbuatan,sekalipun dalam hatinya penuh keimanan. Juga orang berbuat amal tapi tidak beriman bisa dikatakan sebagai orang munafik ,karena berbuat sesuatu tapi hatinya mengatakan lain.

pernah dengar juga,ada orang berjilbab tapi kelakuannya masih parah?  nah, hati yg berjilbab tanpa fisik yg berjilbab tentu kurang sempurna,demikian sebaliknya fisiknya berjilbab  tapi hatinya masih liar juga menjadi kosong dan bisa menjadi fitnah bagi wanita2 berjilbab lainnya.

karena hakikat tanpa syariat itu palsu,dan syariat tanpa hakikat itu lemah

memangnya bisa sholat gak pakai wudhu? atau gak pake baju? sekalipun hatinya bersih? apakah kalau hati udah bersih jadi gak perlu wudhu lagi? kan katanya Allah hanya melihat hatinya bukan fisiknya? apakah karena hati udah bersih lalu lahiriah jadi gak penting lagi? apakah karena Allah gak ngeliat fisik kita tapi hati kita,lalu kita nekad sholat pake baju yg compang camping misalnya?

mentang2 hati udah bersih jadi boleh gak sholat gitu misalnya? ?  wah hebat sekali kalau kita mau ngalahin rasul, yg mana beliau udah dijamin surga, namun masih mau sholat sampai kakinya bengkak2.

Jadi menurut saya antara hakikat dan syariat, keduanya sebenarnya gak bisa dipisah2-in ,karena dalam setiap syariat mengandung hikmah hakikat dari perbuatan syariat itu  jika kita benar2 menggunakan hati kita dalam melakukannya.

Apapun itu,dimanapun kita berada,mari kita perbaiki keduanya,apabila baru syariatnya saja yg selama ini kita lakukan,kita perbaiki dengan memahami maknanya,dan apabila kita telah mengerti hakikatnya ,jangan pernah kita tinggalkan syariatnya ,karena kita hidup di dunia sebagai mahluk yg masih butuh syariat dalam melakukan pemahaman2 kita sekaligus sebagai sarana interaksi dengan manusia2 lainnya,untuk jadi contoh dan peringatan juga buat yg lain.

Nah kalau dalam menilai orang lain ,saran saya ,kita sebaiknya menilai orang lain selalu mengambil positifnya saja,jadi misalnya seorang wanita berjilbab namun masih merokok ataupun pakaiannya ketat ,kita ambil positifnya aja bahwa dia sudah mau berjilbab,mungkin apabila dia tidak berjilbab kelakuannya akan  lebih minus lagi dari dia yg sekarang.Begitu juga bagi yg tadi STMJ ,kita ambil positifnya aja bahwa dia masih mau sholat,mungkin kalau gak sholat dia sama sekali gak ada pegangan atau remnya alias lebih parah lagi dari yg sekarang ini (yg udah parah) .

kata seorang sahabat saya,orang yg masih mau sholat walaupun bermaksiat,ibarat orang yg kotor tapi masih mau nyelupin diri ke sungai buat sekedar bersihin diri,biarpun sedikit pasti ada manfaatnya,tapi mungkin kita gak bisa lihat secara lahiriah ya,karena tetap aja sholat itu mengandung makna2 yg agung,dan juga sholat memang wajib kok,jadi gak mesti gara2 kita maksiat jadi gak sholat,malah kita akan semakin dalam terjerumus jika kita berpikir demikian.

Demikian juga dengan mereka yg belum berjilbab ,tapi akhlaknya baik,kita ambil positifnya,mungkin kemampuan dan pemahaman agamanya baru sampai di akhlak,katanya ingin  menjilbabi hati dulu,boleh2 saja berpikir seperti itu,tapi ingat juga,biasanya jilbab akan lebih membantu seseorang untuk tidak keluar jalur dan lebih bisa membentengi dirinya ketimbang jika tidak.

Seperti contoh,misalnya ada seorang teman saya yg laki2,karena sering memakai peci ke kantor,jadinya pas satu kantor mau pada pergi ke tempat dugem ,gak ada yg berani mengajak teman saya tadi  ke tempat dugem itu (jadi terhindar dari ajakan maksiat kan? ) ,atau di karaoke saat teman2 kantornya pada mau pesan minuman beralkohol,mereka jadi pada menunggu teman saya pulang dulu baru mereka2 ini berani pesan minuman beralkohol.   So ,liat kan pakaian kita juga bisa membantu kita mencegah dari kemaksiatan yg orang lain ingin lakukan,betul gak?

jadi kenapa tidak mulai dulu dari luar baru kedalam,gak ada salahnya juga kan? dimulai dari syariat dan diperdalam dengan hakikat. dimulai dari tata cara dan pakaian luar,kemudian dipahami lebih dalam lagi maknanya.

sebaliknya juga ,bagi yg sudah baik pemahaman dan akhlaknya, sebaiknya mulai ditingkatkan lagi syariat2 ibadahnya biar semakin klop dengan pemahaman dan akhlaknya itu tentunya :)

wallahualam,semoga Allah yg maha memberi petunjuk memberi petunjukNYA dan pemahaman kepada kita semua

About these ads

42 Komentar

  1. pertamax :)

    • hihi,iya lupa diembat pertamaxnya :P

  2. STMJ itu apa si kak?

    • Susu telor madu jahe,tapi dalam hal ini sholat terus maksiat jalan dik maiank :P

  3. X=Y
    X= Keyakinan
    Y= Energi
    Saya sepakat bahwa keyakinan adalah dasar. Trust, keyakinan, adalah pondasi dalam berbagai perspektif perjalanan hidup. Dalam ajaran yang menempel sejak saya lahir, mungkin ini bisa disetarakan dengan syahadat. Dan sejauh yang saya tahu, rukun pertama itu diikuti oleh 4 rukun lainnya. Dan 4 rukunlainnya itu dimata saya berbentuk syariat. Perbuatan. Tindakan. Usaha dan upaya.

    Keyakinan adalah energi. Keyakinan tidak hanya mampu memberikan energi bagi kita, namun juga bagi lingkungan sekitar. Dan ketika perspektif individual ini dibawa kepada kelompok, maka keyakinan itu harus dimiliki oleh setiap komponen kelompok tadi. Keyakinan yang harus benar-benar sama. Keyakinan atas cita-cita, yang dibangun atas keyakinan pada setiap individu yang berada didalamnya. Kekuatan keyakinan itulah yang lalu menghasilkan energi yang maha dahsyat. Ketika dia diarahkan ke titik yang sama, bukan cuma kekuatan yang dia miliki. Namun juga akselerasi yang luar biasa.

    So, dalam pemikiran sempit saya ini, trust adalah sebuah pondasi. Namun dia harus diikuti dengan menjalankan syariatnya. Tanpa dijalankan secara utuh, maka “bangunan” itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Penting, tapi bukan segala-galanya.

    • cukup menarik juga penjelasan kamu dari sisi ini,betul syahadat aja tanpa melakukan syariat itu omong kosong aja jadinya,karena apa jadinya sebuah ilmu tanpa amal? apa gunanya sebuah keyakinan tanpa perbuatan yg mendukungnya?

      mari rumahnya dan pondasinya sama2 kita kuatkan :)

      • untuk topik yang ini, hm…
        ada 4 tingkatan “pengetahuan spiritual” kan: Syariat- Hakikat- …-Makrifat (wah,yang satu sdng lepas dari memori), Tasawuf ya???!
        Dan manusia melewatinya dengan alur yang memang seperti itu, tidak bisa terbolak-balik.

        Artinya setelah bisa syariat, baru dia akan memasuki fase dimana dia ingin menggali lebih dalam ke arah Hakikat, dan seterusnya. Tapi, kadang orang sering aneh, mentang2 udah merasa dirinya Hakikat lalu tidak melaksanakan Syariat (ada lho…, banyak malah!), misalnya tidak shalat kecuali setahun sekali.
        Nah, ini yang buat orang lain di sekelilingnya kadang ngrasa gerah, dan menjudgement “aneh”.Ya iya, orang kebanyakan kita orang awam, jadi sebaiknya tidak melawan aruslah…

        Keyakinan akan cita-cita dan keyakinan terhadap komponen yang membangun kelompok tersebut harus berjalan bersama-sama. Selaras. Mutlak hukumnya. Karena jika hanya keyakinan akan cita-cita yang kita miliki, maka hanya akan menghasilkan energi yang “ngelambyar”. Contohnya kejadian Siti Jenar, yang akhirnya harus “dibunuh” demi menyelamatkan umat yang lain.

      • syariat – tharikat (jalan) – hakikat – makrifat

        (yg terakhir gak ada hubungannya dengan mak erot atau mak lampir ya :mrgreen: )

        seperti saya bilang tadi,kalau hakikat tanpa syariat,jadi palsu alias kebablasan.

        karena kita dapat islam dan syariat2nya kan melalui rasul. nah rasul sebagai umat muslim paling sempurna,sebagai contoh paling mulia,masih melakukan syariat,nah masak yg ngaku2 udah hakikat gak mau melakukan syariat lagi? apakah mereka merasa lebih dari rasul yg jelas2 paling mulia sebagai kekasih Allah dan sebagai rasul yg diturunkan perintah2NYA ,beliau kan adalah alquran berjalan istilahnya,dan beliau masih sholat 5 waktu dan melakukan semua syariat lainnya.

        selama masih hidup di dunia,kita gak akan bisa lepas dari syariat, memang kalau gak dikembaliin lagi kepada alquran dan hadits bisa tersesat deh kita kalau mau2 kita sendiri aja ;)

        wallahualam :)

  4. Hmm.. tidak diragukan lagi, Islam haruslah dijalankan secara kaffah. Masalah penilaian, memang kita tidak berhak menilai dengan seenaknya, hanya Allah yg Mahatau semuanya. Cukup mengingatkan lalu mendoakan. :)

    • setuju,gak bisa kepisah2 dan gak bisa setengah2 ,harus total :)

  5. salam kenal dari http://aby-umy.blogspot.com/

    kalau ada waktu mampir ya sobat??

    • insya Allah ,baru dari tekape ;)

  6. makasih gan udah mau mampir ke blog saya

    salam persahabatan juga gan,, :)

  7. Untuk berubah memang berproses butuh waktu dan berkawan dalam komunitas kebaikan.

  8. Saya dapat ilmu lagi. :)

    • saya juga,karena itu saya bagikan kepada teman2 semua :)

  9. wuih tulisan yang mencerahkan makasi mas

  10. syariat dan hakikah haruslah satu kesatuan, jika hanya hakikatnya saja repot nanti, kalau sholat hakikatnya ingat, maka bisa jadi gerakan-gerakan sholat dilupakan

  11. benar2 pencerah dari ustadz Didot…
    hmm,, sy resapi dulu….

  12. Memang untuk memahami hakikat dari syariat itu sulit, kadang yang sudah mengerti syariat pun nggak paham dengan hakikatnya. Dah, pemahaman itu nggak mudah didapat kalau nggak dicari ilmunya. Sebelum mencapai tingkatan pemahaman akan hakikat, manusia harus mengenal dulu apa yang disyariatkan dan apa saja yang harus dimerngerti dalam syariat2 yang diperintahkan….

    • dimulai dari syariat,kemudian diperdalam maknanya :)

  13. mm..ada yg bilang kalo obat hati itu baca Qur’an dan maknanya. Jadi kalo cuma baca Qur’an saja tanpa tau artinya tetep saja buta. Tapi tetep dpt pahala siy..
    Mungkin ini juga salah satu contoh seperti bang didot maksud tentang syariat dan hakikat..
    Hadu maaaf saya selalu mencaricari pemahaman sendiri unt otak saya yang rada lemot ini..#emot nutup muka :-D

    • betul itu,harus diperdalam dengan makna dan tafsir sekalian kalau perlu,karena kadang kalau maknanya aja kurang bisa kita pahami,maklum ilmu kita kan terbatas,apalagi alquran itu kan diturunkan melalui rasul bertahap,jadi harus ngerti juga kejadian2nya :)

  14. alhamdulillah. (cuma bisa kasih kata itu, sampe speechless gue baca postingan ini)

    btw, tolong kasih link blog lo ke Ala dong, Dot. Dia suka baca yg kaya gini. thx ya :)

    • enak gak ya ngasih linknya?? abis belum dikenalin resmi sih :P

      • kasih aja Dot, gak papa, dia pasti girang banget. Kerjaannya kalo ketemu gue nunjukin link2 tentang agama terus.

  15. Mudah2an aku bisa dihindarkan dari apa yang dinamakan STMJ. Sungguh sesuatu yang amat memilukan jika termasuk pada kategori manusia ini. Penuh ketaatan namun dibungkus dengan kertas kebohongan. Dan ini memang bisa menimpa siapa saja, termasuk juga aku (tanpa disadari). Untuk itu sebagai manusia biasa yang penuh dgn segenap kekurangan, kita bermohon kepada Allah Taala, agar terus tetap berada di jalan Nya dengan penuh keistiqomahan dan kejujuran.

    • kadang manusia belum mengerti hakekatnya,jadi baru sebatas syareat aja,tapi itu juga gapapa mas ifan,karena level orang berbeda2 pemahamannya ,yg penting semua berusaha menaikkan level itu setiap saat,karena Allah gak butuh hasil,tapi butuh keseriusan usaha kita mengubah diri kita :)

  16. Bagaikan membangun sebuah rumah, syariat adalah pondasi, tarekat adalah tiangnya, hakekat adalah bentuk rumahnya dan ma’rifat adalah isi rumahnya.

  17. Syariat-Tarikat-Hakikat-Makrifat, semuanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisah2kan…
    Sebagian Ulama Mengatakan bahwa, syariat yang wajib ditegakkan yaitu rukun Islam, dan menjalankan hakikat dengan mengimani Rukun Iman…
    Wallahu’alam…

    setuju :)

  18. bagus juga sich, tapi hasilnya insyaallah lebih baik kalau hakikat dulu bru syariat,, karena salah satunya akan lebih bnyak ujiannya,

  19. Emang kbanyakan pd masa skrang ini jarang yg tau masalh ma’na ‘hakikat’ syariat dalm shalt, coba dima’nai dlu, ‘takbirotul’ itu ap? Yg namanya ‘meng’agungkan allh’ itu gmn? Ihrom itu ap? Yg namnya memjga diri dri yg haram itu gmn? Hrs blajar Al Qur’an kan? Trs diakhiri dengan salam nengok kanan dan kiri salam dgn tetangga. Silaturahmi itu gmn? Intinya perbuatan smua itu dalm ranka shalat yg hrs di lakukan dan mencgah prbuatan keji dan munkar’ itu br namanya shalat! Grakan shalat scara ritual itu tak berguna jika tdk ada ma’nanya. Tdk ad nilainya.. Percuma dilakukan jg. Gmn menurt anda?

  20. Ma’rifat!
    Hakikat!
    Tarekat!
    Syari’at!
    “Semua itu telah di pelajari oleh Muhamad rosulullah saw,
    “makanya kita kalau ingin jadi umat rosul yang sebenarnya harus mempelajarinya..
    “Apa ga percaya? Coba aja anda pikirkan?

    • caranya?

  21. Shalat!.
    Shalat!!.
    Kalau ga shalat dosa’ agamanya roboh’loh!

  22. Sebenarnya adalah:
    Jika kita mengaku sebagai umat Muhamad rosululloh saw.
    Kita hrs benar-benar memprhatikan riwayat kehidupan beliau rosululloh’ supaya kita bisa mencontoh beliau.
    Sesuai firman Alloh swt’.
    Sesungguhnya telah ada untk kamu semua, suri tauladan yg baik didalam diri rosululloh bagi org yg mengharapkan Alloh’ dan hari akhir dan mengharap bisa mengingat Allah sw sebanyak-banyaknya.

    “Lalu apakah skrg kita sudah benar sesuai dgn apa yg tlah dijalankan olehnya?!.

    Yg ingin saya tanyakan adalah:
    “Dahulu Nabi Muhamad saw’ dalam riwayat hidupnya melaksanakan syari’at terlebihdulu’kah!
    “Atau mengetahui hakikatnya dulu? Kmudian melaksanakan syari’atnya?!.
    Umur brp Nabi isro’mi’roj? Dan mulai umur brp Nabi mulai sudah mendaptkan wahyu untuk disampaikan pd umatnya(da’wah)?.

    Jika ada yg bisa mejawab, Saya
    Mohon dgn sangat jwablah.
    “Apkh itu penting?!.
    Tentu saja sangat penting.
    Krn apa?
    Org yg melaksanakan syari’at tanpa tau hakikatnya, itu akan terasa sia-sia, krn sabda rosululloh:
    banyk orang yg shalat ttpi dia hanya mendpat cape’nya saja.

  23. sangat menarik utk di plajari… jempol ku smua buat yang nulis


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.948 pengikut lainnya.